Gibran-Teguh Versus Kotak Kosong?

Pilkada kota Solo kemungkinan akan memperhadapkan pasangan Gibran Rakabuming-Teguh Santosa dengan kotak kosong.

Pasangan ini diusung oleh partai terkuat di kota Solo, yaitu PDI Perjuangan. Partai berlambang banteng ini menguasai 30 dari 45 kursi di DPRD.

Partai lain hanya berbagi 15 kursi. PKS dengan 5 kursi, Gerindra, PAN, dan Golkar masing-masing 3 kursi, dan PSI 1 kursi.

PAN, Gerindra dan Golkar sudah memberikan sinyal akan mendukung Gibran-Teguh. Sehingga hanya menyisakan PKS yang belum menentukan sikap.

Dengan peta politik begini, putra sulung Presiden Joko Widodo ini berpotensi akan berhadapan dengan kotak kosong. Nah, kalau berhadapan dengan kotak kosong, bagaimana peluangnya?

Mahesa Danu dari berdikarionline.com sudah berbincang-bincang dengan Koordinator Relawan Kotak Kosong (Rewako) Makassar, Anshar Manrulu.

Untuk diketahui, pada Pilkada bulan Juni 2018, kotak kosong berhasil mengalahkan calon tunggal, Munafri Arifuddin-Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu).

Padahal, pasangan ini didukung oleh 10 partai politik. Tak hanya itu, Appi-Cicu juga merupakan reprsentasi dari kekuatan oligarki di Sulawesi Selatan, bahkan Indonesia.

Munafri adalah menantu Aksa Mahmud, bos Bosowa Corp dan masuk daftar 40 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes. Aksa juga merupakan ipar dari Jusuf Kalla, Wakil Presiden kala itu.

Pilkada kota Solo kemungkinan akan memperhadapkan Gibran-Teguh dengan kotak kosong. Bagaimana menurut, Bung?

Pencalonan Gibran, yang notabene putra sulung orang nomor satu di Republik ini, memang tidak melanggar aturan apa pun. Hanya saja, bagi saya, bicara adab dan etika politik, itu kurang pas.

Apalagi Pak Jokowi pernah bilang tidak akan menyertakan keluarganya dalam urusan politik. Kalau alasannya hak-hak politik warga Negara, maka dinasti dan oligarki politik yang telah memangkas dan memotong kesempatan orang lain untuk menduduki posisi politik tertentu. Padahal, mungkin ada banyak calon kandidat yang lebih pantas.

Seandainya nanti Gibran –Teguh akan berhadapan dengan kotak kosong, kira-kira seperti apa dinamika politiknya?

Tentu saja, ini akan lebih dinamis jika (Gibran-Teguh) berhadapan dengan kotak kosong. Sebab, semua spektrum politik yang tidak mendukung akan lebih mudah terkonsolidasikan lewat wadah kotak kosong. Situasinya akan sangat berbeda jika yang dihadapi kandidat boneka—kandidat yang sengaja diusung sekadar untuk mencegah kotak kosong.

Ini juga akan menjadi momentum perlawanan pada kekuatan dinasti dan oligarki.

Mungkinkah kotak kosong bisa mewakili aspirasi atau perasaan orang-orang yang kecewa dengan sedikitnya pilihan yang disuguhkan di Pilkada?

Boleh jadi, jika tersosialisasi dengan baik, keberadaan kotak kosong bisa mengikis jumlah golput. Warga atau kelompok yang menginginkan calon lain akan mendukung kotak kosong, dengan harapan kemenangan kotak kosong bisa kembali membuka peluang calonnya untuk berlaga kembali dalam pilkada.

Juga bisa menyeret pemilih rasional, golongan menengah keatas, yang tidak punya afiliasi pada kekuatan politik mana pun, kecenderungannya akan mendukung kotak kosong. Itu yang terjadi di Pilkada Makassar 2018, hampir semua kawasan pemukiman yg dihuni golongan menengah keatas memenangkan kotak kosong, bahkan di kawasan perumahan yang dihuni pasangan calon tunggal (Appi-Cicu).

Mereka sadar, calon tunggal ini modus yang digunakan untuk memuluskan langkah berkuasa, dengan mengakali aturan, makanya jumlah calon tunggal terus bertambah banyak dari pilkada ke pilkada.

Menurut Bung, apa pelajaran dari gerakan kotak kosong yang berhasil di Pilkada Makassar 2018 untuk Pilkada kota Solo?

Jika oligarki politik dan ekonomi memaksakan kehendak politiknya  dengan membajak demokrasi, dengan memanfaatkan yang dan relasi politik yg mereka kuasai, maka pertahanan terakhir rakyat untuk menunjukkan kedaulatannya ada di bilik suara.

Dan bagi saya, kotak kosong selangkah lebih maju dari golongan putih (Golput) karena punya konsekuensi politik langsung.

Menurut Bung, jika nanti Pilkada benar-benar mempertemukan Gibran-Teguh dengan kotak kosong, perlukah gerakan rakyat ambil bagian?

Tentu penting, kupikir hampir semua daerah di Indonesia, termasuk Makassar dan Solo, tidak senang dengan kekuasaan yang dipertontonkan berlebihan.

Semangat itu pula yang menjatuhkan Soeharto, cara mengekspresikannya saja yang berbeda-beda. Kalau di Makassar, rakyat mungkin tidak menyembunyikan ketidaksenangannya. Dan cenderung meluap-luap mempertontonkan perlawanannya. Daerah lain mungkin berbeda.

Tapi yang lebih penting, momentum ini jadi pengalaman dan pembelajaran bagi rakyat, bahwa kita mampu menghadang mereka dilapangan elektoral, bahwa harapan itu masih ada, tidak semua mampu diatur dan dikendalikan oleh kekuatan oligarki.

Dan ini merupakan modal besar bagi rakyat untuk merumuskan dan memajukan agenda politiknya sendiri, termasuk mengusung calon sendiri jika tidak ada lagi harapan pada calon-calon yang ada.

Mahesa Danu

Foto: Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming, sedang berbicara saat Konferensi Pers PDI Perjuangan, di Solo, Jawa Tengah, 17 Juli 2020. (Antara/Mohammad Ayudha)

%d blogger menyukai ini: