Diskusi Virtual Tentang Seks Bebas, Abdy Keraf: Pendidikan Seks Harus Dari Rumah

KUPANG,–Rumah Milenial Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan webinar soal seks bebas dan kekerasan seksual.

Dengan Thema diskusi “Milenial dan Seks Bebas” Christo Kolimo, Direktur Wil NTT mengatakan, Maraknya kekerasan seksual dikalangan remaja dan pemuda merupakan fenomena sosial yang telah merusak tatanan nilai dan moral dalam kehidupan beragama dan budaya.

Seks bebas dan kekerasan menurut Tito, mayoritas korbannya adalah perempuan disampaikan dalam diskusi Virtual yang diinisiasi oleh RMI dan Wil NTT, Sabtu (17/10/2020) di Kupang.

“Selain korban kekerasan dan seks Bebas, masyarkat NTT juga masih memelihara budaya patriarki, perempuan di nomerdukan dalam segala aspek kehidupan”, Tandas Tito

Defli Y Roha, Direktur Eksekutif RMI, mangatakan, kemajuan teknologi, sex bebas menjadi tren dikalangan remaja.

“Di era teknologi, Generasi milenial secara terbuka dapat mengakses segala sesuatu, termasuk konten-konten dewasa yang sangat berpotensi para remaja dan melakukan sex bebas”, terang Defil

Semntara Abdi Keraf, Dosen Psikologi Univeristas Nusa Cendana Kupang mengatakan bahwa, berbicara soal seks bukan hanya seputar hubungan intim pria dan wanita tetapi bisa juga tentang kesehatan dan perkembangan emosi.

Selain kurangnya pendidikan seks yang benar kepada remaja, ada faktor lain yang mempengaruhi generasi milenial menjajakan seks.

Faktor-faktor tersebut antara lain pertama, minimnya perhatian orang tua terhadap orang tua.

Kebanyakan orang tua tidak pernah mengetahui apa yang sering dilakukan anaknya diluar rumah.

Faktor lingkungan khususnya teman sebaya, teman sebaya memiliki andil dalam mempenngaruhi sesorang untuk melakukan hal-hal negatif termasuk perilaku seks.

Sedangkan faktor ekonomi, ekonomi keluarga terkadang mengharuskan orang muda menghalalkan banyak cara untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

“Pendidikan yang terbatas serta perilaku demoralisasi, dampaknya adalah mereka melihat prostitusi sebagai salah satu pekerjaan yang menjanjikan untuk memperoleh banyak uang”, pungkasnya

Abdi Keraf juga menjelaskan bahwa peranan orang tua dan keluarga menjadi corong terdepan dalam memberikan pendidikan seks kepada anak.

Lanjut Abdi, Pendidikan seks dini kepada generasi milenial jauh lebih baik untuk menumbuhkan perasaan dan kemampuan yang bertanggungjawab dalam diri mereka.

“Pendidikan seks itu penting, kelak membuat mereka mengambil keputusan seksualnya berdasarkan informasi yang kredibel dan nilai-nilai yang ia anut”, jelas Abdi

Dirinya berpesan menyalurkan nilai lewat edulasi Seks dimulai dalam keluarga sehingga mereka tidak harus berusaha mencari dan mendapatkan informasi tersebut dari sumber-sumber yang kurang terpercaya.

Sementara Adelia yang adalah Koordinator Organiasi Perubahan Sosial (OPSI) NTT dalam kesempatan itu menjelaskan bahwa istilah seks bebas bukan lagi menjadi rahasia bagi masyarakat pada umumnya.

Masyarakat yang hidup di era modern merasa paling memiliki kebebasan untuk melakukan apapun termasuk soal seks.

Terlepas dari konstruksi sosial, seks bebas seringkali mengarah pada seks yang tidak aman yang kemudian akan berdampak negatif pada pelakunya.

Oleh karena itu, saatnya generasi milenial harus secara sadar menjadi pribadi yang memahami benar tentang pendidikan seks sehingga tidak lagi terjerumus kedalam perilaku seks bebas.

Menurut Adeli, selama ini yang ada dalam pemahaman masyarakat umum bahwa seks hanya di lakukan oleh laki-laki dan perempuan

Padahal sesungguhnya yang terjadi di lapangan tidak demikian bahkan sering kali ditemukannya anak-anak yang dibawah umur yang sudah terkibat dalam perlikau seks bebas.

Adelia berharap agar pernanan orang tua sudah harus mengedukasi anak-anak tentang pentingnya pendidikan seks.

Edukasi Seks harus dimulai sejak dini agar kelak mereka tidak keliru dalam memaknai kebebasan karenaketika mereka sudah terjerumus kedalam perilaku seks bebas maka seyogianya mereka akan menangalami resiko tinggi dari dampak perilaku seks bebas itu sendiri.

Sementara, Trifena Abukun yang merupakan salah satu peserta mengatakan bahwa dirinya sangat bersyukur karena hari ini ia banyak mendapatkan pengetahuan yang benar tentang seks itu sendiri.

Baginya, sebagai generasi milenial seks itu tidak boleh dilakukan jika tidak ada pengakuan secara sah dari masing-masing ajaran yang dianutnya.

Jika terjadi, menurut Trifena, kelak akan merusak citra diri dan keluarga.

“Apalagi bagi yang sedang mengenyam pendidikan, seharusnya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempersembahkan hal positif bagi keluarga, bangsa dan negara ini”, Jelas trifena.

Dirinya pun brharap agar kedepan, para peserta webinar hari ini tidak cukup dengan mendengarkan materi hari ini.

selepas kegiatan ini maka para generasi milenial yang merupakan peserta harusnya menjadi individu dan kelompok yang terus mengkampanyekan bahaya seks bebas sehingga ikut membantu menekan maraknya HIV/AIDS.

Diskusi virtual yang dipandu oleh Rethy Benu ini diikuti oleh 100 lebih peserta dan mendapatkan respon yang positif. (TIKO)

%d blogger menyukai ini: