Ini Testimoni Maria Hebi Usai Mengikuti Pelatihan Menulis Karya Ilmia

GELIAT LITERASI DARI PENA SANG GURU

Oleh-oleh dari Pelatihan Menulis Bagi Guru

Penulis : Maria Hebi

Menulis adalah seni menuangkan ide dan gagasan, demikian artikel yang ditulis Febriyan Lukito dalam sebuah blog.  Klausa tersebut sesungguhnya menyiratkan pesan bahwa seyogyanya semua kita (guru) adalah seniman-seniman penggagas ide.

Sebab siapa menyangkal jika guru tak tahu atau tak pernah menulis ? Namun lagi-lagi, apa yang ditulis tentunya merupakan representase isi kepala kita, bahkan karakter kita secara keseluruhan.

Orang dapat mengenal siapa kita setelah membaca apa yang kita tulis. Siapa dan berapa besar kualitas diri kita dapat terlihat secara gamblang  dari cara kita menuangkan ide dan gagasan dalam tulisan.

Dalam geliat literasi yang terus digaungkan terutama dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan di negeri ini, guru menjadi salah satu subyek sekaligus obyek yang perlu mendapatkan ruang penyegaran dan penyadaran tentang investasi kehidupan dalam rupa literasi.

Literasi sesungguhnya tidak sebatas menulis dan membaca, namun jauh dari pada itu literasi menembus akar kehidupan terutama dalam memperbaiki tatanan yang rusak atau menyimpang bahkan menghasilkan karya cipta dan karsa yang tentunya berdaya guna bagi banyak orang.

Dalam pada itu, realita yang terjadi sedikit bertolak belakang dengan idealisme bangsa ini.

Riset UNESCO menyatakan bahwa 1 dari 1000 orang Indonesia membaca buku. Sungguh bangsa ini berada di ambang “kepunahan” secara inteletual.

Bagaimana generasi bangsa ini dipersiapkan? Terkait hal ini, guru lagi-lagi menjadi pelaku literasi yang sangat banyak mendapat sorotan, sebab selain membelajarkan dirinya ia juga memiliki tanggung jawab besar terhadap anak didiknya.

Namun apa mau dikata, jika pada kenyataannya sebagian besar dari guru masih belum melek literasi ?

Menyikapi hal ini, Badan Musyawarah Perguruan Swasta NTT bekerja sama dengan Majalah Cakrawala NTT ikut mengambil bagian dalam upaya pemulihan akan stigmatisasi negatif tentang literasi guru di NTT teristimewa di kota Kupang.

Partisipasi ini direalisasikan dalam bentuk pelatihan menulis karya ilmiah bagi guru yang berkarya di sekolah swasta se Kota Kupang.

Idealismenya sangat sederhana, bahwa guru telah berbuat banyak hal di kelas, menghasilkan produk yang tak kalah kualitasnya.

Tugas mereka dalam kaitannya dengan literasi adalah menulis kembali apa yang telah mereka lakukan di dalam kelas.

Dengan demikian akan memberikan sumbangan bukan saja bagi anak didiknya namun juga kepada masyarakat secara luas.

Maka apa yang dikatakan Gusty Rikarno dalam Jangan Menghina Guruku Lagi, bahwa literasi itu menulis tentang menulis memberikan inspirasi hangat bagi para peserta pelatihan.

Saya adalah seorang guru. Mendapat kesempatan mengikuti pelatihan ini adalah rahmat terbesar dalam perjalanan karya saya.

Bersama 49 peserta lainnya kami diajak untuk pulang kepada diri sendiri, mengosongkan ruang di hati dan membiarkan akal berpikir sejenak tentang siapa sesungguhnya diri kami.

Sentilan-sentilan manis namun menggelitik mengeruk sebagian pikiran. Bagaimana guru ditempatkan pada ruang pembenaran tentang kejujuran intelektual terkait literasi.

Demikian sang mentor dalam pelatihan ini menggiring kami ke dalam permenungan reflektif.

Beberapa buku karangan Gusty Rikarno sang mentor dipajang di sudut ruang. Saya  bergeming dan sedikit sinis membaca judul Jangan Menghina Guruku Lagi.

Pikiranku menebak-nebak ke mana arah tulisan dalam buku itu. Saya berpura-pura melupakan sejenak tentang buku itu dan memilih berkonsentrasi pada kegiatan menulis.

Namun semakin saya berusaha melupakan, semakin besar pula niat untuk memastikan isi tulisan yang sesungguhnya.

Akhirnya saya membeli buku ini, dan melahapnya sesegera mungkin.

Membaca secara keseluruhan sub topik Jangan Menghina Guruku Lagi, membuat saya merasa sangat malu.

Secara gamblang penulis membeberkan “aib” akibat minimnya kemampuan literasi guru. Kambing hitam tentunya tak luput dari upaya pembenaran-pembenaran unsur terkait.

Dan guru berada di pusaran “dosa” tentang pemaknaan diri sebagai tokoh yang patut digugu dan ditiru.

Perilaku guru sebagai tokoh menjadi sorotan terutama dalam unjuk kualitas diri terkait literasi.

Bagai makan buah simalakama, posisi guru sangat tidak diuntungkan.

Namun kebenaran hakiki akan berbicara jika dia berani keluar dari zona nyaman dan memulai satu titik untuk sebuah garis, dan sebuah garis untuk lukisan indah tentang wajah dunia.

Dan tak pernah disangka bahwa kegiatan pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini akhirnya menelorkan karya-karya berkualitas dari para guru.

Sebanyak 50 karya ilmiah populer dihasilkan sebagai produk kegiatan ini.

Dengannya, sang guru menunjukkan bahwa stigmatisasi negatif tentang literasi yang terlanjur melekat pada dirinya tidaklah sepenuhnya benar.

Guru ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Namun ia terlanjur hidup dalam habitat yang membentuknya untuk tinggal diam dan bertahan dengan apa yang ada.

Gerakan pelatihan ini telah menolong para guru untuk menjahit kembali sobekan-sobekan akibat ausnya penghargaan dan pendampingan.

Literasi sesungguhnya menjadi sarana pemaknaan diri dalam unjuk karya. Dengannya orang dapat menilai dan memberi arti akan diri kita.

Geliat literasi dari pena sang guru kini mampu memberikan dan membangkitkan energi untuk terus maju dan berkarya.

Memperbaiki tatanan yang terlanjur koyak dengan membangun habitus baru dalam literasi adalah jalan pulang menuju profesionalitas yang bermutu. Menulislah, maka dunia akan mengenangmu. Salam Literasi !

%d blogger menyukai ini: